BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air suatu sarana utama
untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, karena air merupakan salah
satu media dari berbagai macam penularan, terutama penyakit perut dan kulit.
Melalui penyediaan air bersih baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya di
suatu daerah, maka diharapkan penyebaran penyakit menular yang bersumber dari
air dapat ditekan seminimal mungkin.
Peningkatan kualitas air
minum/bersih dengan jalan mengadakan pengelolaan terhadap air yang akan
diperlukan sebagai air minum/bersih dengan mutlak diperlukan terutama apabila
air tersebut berasal dari air permukaan. Pengolahan yang dimaksud dimulai dari
yang sederhana sampai yang pada pengolahan yang mahir/lengkap. Oleh karena itu
dalam praktek sehari-hari maka pengolahan air adalah menjadi pertimbangan yang
utama untuk menetukan apakah sumber tersebut bisa dipakai sebagai sumber
persediaan atau tidak.
Pengolahan air bersih di
PDAM (Perusahan Daerah Air Minum) kota Padang bersumber dari air Batang Kuranji
melakukan pengolahan dengan tiga tahap: Tahap pengendapan alami (natural
sedimentation); Tahap penjernihan (clarification); Tahap penyaringan
(filtration). Proses penyaringan dilakukan dengan secara sidementasi.
1.2 Maksud dan Tujuan
Mengetahui proses pengolahan air bersih di PDAM kota Padang, sehingga
dapat dibandingkan dengan proses pengolahan air bersih yang dilakukan secara
umum dan proses pengolahan air bersih yang dilakukakan di daerah lainnya.
1.3 Metodelogi
Dalam penyusunan makalah ini,
metode yang digunakan yaitu metode kepustakaan dengan mencari dan mengumpulkan
data-data yang berhubungan dengan judul yang dibahas (proses pengolahan air).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Pengolahan Air
Yang
dimaksud dengan pengolahan adalah usaha-usaha teknis yang dilakukan untuk
mengubah sifat-sifat suatu zat. Hal ini penting artinya bagi air minum, karena
dengan adanya pengolahan ini, maka akan didapatkan suatu air minum yang
memenuhi standar air minum yang telah ditentukan. Dalam proses pengolahan air
ini pada lazimnya dikenal dengan dua cara, yakni:
-
Pengolahan lengkap atau Complete treatment process, yaitu air akan mengalami pengolahan
lengkap, baik fisik, kimiawi dan bakteriologik.
a.
Pengolahan fisik; yaitu suatu tingkat pengolahan yang
bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan kotoran-kotoran yang kasar,
penyisihan lumpur dan pasir, serta mengurangi kadar zat-zat organic yang ada
dalam air.
b.
Pengolahan kimia; yaitu suatu tingkat pengolahan dengan
menggunakan zat-zat kimia untuk membantu proses pengolahan selanjutnya.
c.
Pengolahan bakteriologis; yaitu suatu tingkat
pengolahan untuk membunuh/memusnahkan bakteri-bakteri yang terkandung dalam air
minum yakni dengan cara/jalan membubuhkan kaporit (zat desinfektan).
Pada pengolahan cara ini biasanya dilakukan terhadap air sungai yang
kotor/keruh.
-
Pengolahan sebagian atau Partial Treatment Process, misalnya diadakan pengolahan kimiawi
dan/atau pengolahan bakteriologik saja.
Pengolahan
ini pada lazimnya dilakukan untuk:
a.
Mata air bersih
b.
Air dari sumur yang dangkal/dalam
2.2 Tahap-Tahap Pengolahan
Untuk mendapatkan air yang
sesuai dengan spesifikasi dan kualitas air minum/air industry, maka air perlu
diadakan pembersihan terlebih dahulu. Dalam hal ini ada beberapa tahap proses
pembersihan air, yaitu:
1.
Pengolahan pendahuluan (Pretreatment)
Pretreament adalah suatu proses pembersihan pendahuluan sebelum
proses koagulasi dengan tujuan untuk memisahkan bahan-bahan yang mengapung,
misalnya minyak, lemak dan benda-benda, atau bahan-bahan kasar.
Air
sungai umumnya sangat keruh, partikel-partikel kasar dapat mengendap dengan
cepat tanpa penambahan koagulan. Hal ini dapat dilakukan dengan bak atau tangki
pengendapan pendahuluan (presedimentation/presettling
basin). Pengendapan pendahuluan ini penting, dengan tujuan untuk mengurangi
beban pada penjernihan, terutama mengurangi pemakaian bahan kimia, sehingga
mempertinggi efisiensi.
2.
Koagulasi (Coagulation)
Koagulasi
adalah suatu proses dimana bahan-bahan kimia (koagulan) ditambahkan kedalam air
untuk membantu proses pengendapan partikel-partikel kecil/koloid yang tak dapat
mengendapkan dengan sendirinya (secara gravimetris). Salah satu alat untuk
melaksanakan proses koagulasi pada penjernihan air ini disebut “Accelator”.
3.
Pengendapan (Sedimentation)
4.
Penyaringan (Filtration)
Air
yang keluar dari bak pengendap yang masih mengandung floc-floc
(gumpalan-gumpalan dan lumpur) yang terbawa aliran air perlu penyaringan agar
air yang dihasilkan betul-betul bersih. Dalam proses penjernihan air minum
diketahui 2 macam filter, yaitu:
a) Saringan pasir lambat
b) Saringan pasir cepat
Sebagai
bahan penyaring, pasir yang dipakai mempunyai ketebalan dan ukuran tertentu,
untuk mencegah penerobosan yang terlalu cepat dari partikel-partikel yang perlu
dijaga pada saringan pasir agar saringan itu tidak retak, supaya air tidak
mengalir begitu saja. Menurut cara kerjanya saringan dapat dibagi menjadi:
a) Gravity filter
b) Pressure filter
5.
Desinfektan (Chlorination)
Klorinasi
adalah pembubuhan Chlor atau kaporit kedalam air bertujuan untuk mendensinfeksi
air agar terbebas dari mikroorganisme, baik kuman pathogen maupun apathogen.
Selain dari pada kuman-kuman, zat-zat lainnya seperti zat organic dapat juga
dioksidasi.
6.
Pelunakan (Softening)
Air
dengan kesadahan yang tinggi, yaitu air yang banyak mengandung ion-ion Cad an
Mg. Air yang mempunyai kesadahan yang tinggi tidak baik apabila dipergunakan
sebagai air pengisi ketel uap, maupun dalam proses pencucian dengan sabun.
Penggunaan air sadah dalam proses pencucian, akan menimbulkan endapan
sehinggamengurangi daya cuci sabun.
Cara
terbaik agar air dapat digunakan sebagai air pengisi ketel uap supaya tidak
melekat pada dinding ketel uap ialah air yang dipergunakan untuk pengisi ketel
itu, sebelum dimasukan ke dalam ketel harus dilunakan (diolah) lebih dahulu.
Ada
beberapa cara untuk mendapatkan air lunak (tidak sadah), diantaranya adalah
penggunaan kondesat, pengolahan dengan cara pengendapan dan dengan resin
penukar ion.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Proses Pengolahan
Sumber
air yang diolah menjadi air bersih pada PDAM Padang adalah air dari Batang
kuranji. Dimana proses pengolahan air ini melalui beberapa tahap proses yang bertujuan
untuk memisahkan zat-zat pengotor yang berupa larutan tersuspensi dengan air mentah,
yaitu:
1. Screening
Screening berfungsi untuk memisahkan air dari sampah-sampah
dalam ukuran besar yang terbawa oleh aliran air. Screening ini berupa saringan
dari batang baja (round bar) yang
dipasang pada saluran masuk bak pengumpul air.
2. Pengendapan Alami
Pada tahapan ini terjadi proses pengendapan lumpur secara grafitasi,
dimana air dialirkan dengan tenang, sehingga lumpur yang mempunyai berat jenis
tinggi dari berat dari air akan mengendap. Hal ini bertujuan agar:
a)
Memisahkan zat-zat pengotor yang mempunyai BJ lebih
berat dari BJ air
b)
Memudahkan kerja Pompa
3. Tangki Sedimentasi
Tangki sedimentasi berfungsi untuk mengendapkan
kotoran-kotoran berupa lumpur dan pasir. Pada tangki sedimentasi terdapat waktu
tinggal. Ke dalam tangki sedimentasi ini diinjeksikan klorin yang berfungsi
sebagai oksidator dan desinfektan.
Sebagai oksidator klorin digunakan untuk menghilangkan bau dan rasa pada
air. Dari tangki ini air yang sudah terpisah dari pasir dan lumpur di pompakan
ke klarifier.
4. Klarifier (Clearator)
Tangki sedimentasi berfungsi untuk mengendapkan
kotoran-kotoran berupa lumpur dan pasir. Pada tangki sedimentasi terdapat waktu
tinggal. Ke dalam tangki sedimentasi ini diinjeksikan klorin yang berfungsi
sebagai oksidator dan desinfektan. Sebagai oksidator klorin digunakan untuk
menghilangkan bau dan rasa pada air. Dari tangki ini air yang sudah terpisah
dari pasir dan lumpur di pompakan ke klarifier.
Klarifier berfungsi sebagai tempat pembentukan flok dengan
penambahan larutan Alum (Al2(SO4)3 sebagai
bahan. Pada klarifier terdapat mesin agitator yang berfungsi sebagai alat untuk
mempercepat pembentukan flok.
Pada klarifier terjadi pemisahan antara air bersih dan air
kotor. Air bersih ini kemudian
disalurkan dengan menggunakan pipa yang besar untuk kemudian dipompakan ke
filter. Klarifier terbuat dari beton yang berbentuk bulat yang dilengkapi
dengan penyaring dan sekat.
Dari inlet pipa klarifier, air masuk ke dalam primary
reaction zone. Di dalam prymari reaction zone dan secondary reaction zone,air
dan bahan kimia (Koagulan yaitu tawas) diaduk dengan alat agitataor blade agar
tercampur homogen. Maka koloid akan membentuk butiran-butiran flokulasi. Air
yang telah bercampur dengan koagulan membentuk ikatan flokulasi, masuk melalui
return floc zone dialirkan ke clarification zone. Sedimen yang mengendap dalam
concentrator dibuang. Hal ini berlangsung secara otomatis yang akan terbuka
setiap satu jam sekali dalam waktu 1 menit. Air yang masuk ke dalam
clarification zone sudah tidak dipengaruhi oleh gaya putaran oleh agitator,
sehingga lumpurnya mengendap. Air yang berada dalam clarification zone adalah air
yang sudah jernih.
5. Sand Filter
Penyaring yang digunakan adalah rapid sand fliter (filter
saringan cepat). Sand filter jenis ini berupa bak yang berisi pasir kwarsa yang
berfungsi untuk menyaring flok halus dan kotoran lain yang lolos dari klarifier
(clearator). Jumlah bak penyaringan 12 unit dengan kemapuan kapasitas saringan
500 l/dt .
Media penyaring biasanya lebih dari satu lapisan, yaitu pasir
kwarsa dan batu dengan mesh tertentu. Air mengalir ke bawah melalui media
tersebut. Zat-zat padat yang tidak larut akan melekat pada media, sedangkan air
yang jernih akan terkumpul di bagian dasar dan mengalir keluar melalui suatu pipa
menuju reservoir.
6. Reservoir
Reservoir berfungsi sebagai tempat penampungan air bersih
yang telah disaring melalui filter. Air yang dalam reservoar ini sebelum
disalurkan ke konsumen di berikan larutan kaporit untuk membunuh bakteri yang
terkandung dalam air tersebut.
3.2 Zat Kimia
Zat
kimia yang digunakan untuk mengikat zat pengotor tersuspensi yang terlarut
dalam air adalah:
1. Tawas
Tawas merupakan bahan koagulan yang paling banyak digunakan
karena bahan ini paling ekonomis, mudah diperoleh di pasaran serta mudah
penyimpanannya. Jumlah pemakaian tawas tergantung kepada turbidity (kekeruhan)
air baku.
Semakin tinggi turbidity air baku maka semakin besar jumlah
tawas yang dibutuhkan. Pemakain tawas juga tidak terlepas dari sifat-sifat
kimia yang dikandung oleh air baku tersebut.
Dengan demikian makin banyak dosis tawas yang ditambahkan
maka pH akan semakin turun, karena dihasilkan asam sulfat sehingga perlu dicari
dosis tawas yang efektif antara pH 5,8-7,4. Apabila alkalinitas alami dari air tidak
seimbang dengan dosis tawas perlu ditambahkan alkalinitas, biasanya ditambahkan
larutan kapur (Ca(OH)2) atau soda abu (Na2CO3).
2. Kapur
Pengaruh penambahan kapur (Ca(OH)2 akan menaikkan
pH dan bereaksi dengan bikarbonat membentuk endapan CaCO3. Bila
kapur yang ditambahkan cukup banyak sehingga pH = 10,5 maka akan membentuk
endapan Mg(OH)2. Kelebihan ion Ca pada pH tinggi dapat diendapkan
dengan penambahan soda abu.
3. Klorin
Klorin banyak digunakan dalam pengolahan air bersih dan air
limbah sebagai oksidator dan desinfektan. Sebagai oksidator, klorin digunakan
untuk menghilangkan bau dan rasa pada pengolahan air bersih. Untuk mengoksidasi
Fe(II) dan Mn(II) yang banyak terkandung dalam air tanah menjadi Fe(III) dan
Mn(III). Yang dimaksud dengan klorin tidak hanya Cl2 saja akan
tetapi termasuk pula asam hipoklorit (HOCl) dan ion hipoklorit (OCl-), juga
beberapa jenis kloramin seperti monokloramin (NH2Cl) dan dikloramin (NHCl2)
termasuk di dalamnya. Klorin dapat diperoleh dari gas Cl2 atau dari garam-garam
NaOCl dan Ca(OCl)2. Kloramin terbentuk karena adanya reaksi antara amoniak (NH3)
baik anorganik maupun organic aminoak di dalam air dengan klorin. Bentuk
desinfektan yang ditambahkan akan mempengaruhi kualitas yang didesinfeksi.
Penambahan klorin dalam bentuk gas akan menyebabkan turunnya
pH air, karena terjadi pembentukan asam kuat. Akan tetapi penambahan klorin
dalam bentuk natrium hipoklorit akan menaikkan alkalinity air tersebut sehingga
pH akan lebih besar. Sedangkan kalsium hipoklorit akan menaikkan pH dan
kesadahan total air yang didesinfeksi.
BAB IV
KESIMPULAN
1.
Dalam proses pengolahan air minum dilakukan beberapa
tahapan, yaitu:
a)
Proses penyaringan air
b)
Proses pengendapan lumpur dan kotoran
c)
Proses klarifikasi (koagulasi, flokulasi, dan
sedimentasi)
d)
Proses penyaringan (sand filter)
e)
Proses
desinfeksi (penambahan kapur dan kaporit)
2.
Bahan-bahan kimia yang digunakan adalah larutan tawas
(alum), liquid klorine, dan larutan kapur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar