Diare
Diare (atau dalam bahasa kasar disebut menceret)
(diarrheal disease) berasal dari
bahasa Yunani diarrola yang berarti
mengalir terus, merupakan suatu keadaan abnormal dari pengeluaran tinja yang
terlalu frekuen. Hipocrates
memberikan definisi diare sebagai suatu keadaan abnormal dari frekuensi dan
kepadatan tinja. Sedangkan dalam bahasa Inggris diarrhea adalah sebuah penyakit
di mana tinja
atau feses berubah menjadi lembek atau cair yang biasanya terjadi paling
sedikit tiga kali dalam 24 jam.
Diare jarang membahayakan, namun dapat menimbulkan ketidaknyamanan
dan nyeri kejang pada bagian perut. Meskipun
tidak membutuhkan perawatan khusus, penyakit
diare perlu mendapatkan perhatian serius, karena
dapat menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). Dehidrasi
dapat ditengarai dengan gejala fisik seperti bibir terasa kering, kulit menjadi keriput, mata dan ubun-ubun menjadi cekung, serta
menyebabkan syok. Untuk mencegah
dehidrasi dengan meminum larutan oralit. Karena itu, penderita diare harus banyak minum air
dan diberi obat anti diare.
Di negara
berkembang, diare adalah penyebab kematian paling umum kematian
balita, dan juga membunuh lebih dari 2,6 juta orang setiap tahunnya. Dampak negatif penyakit diare pada bayi
dan anak-anak antara lain adalah menghambat proses tumbuh kembang anak yang
pada akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup anak. Penyakit diare di
masyarakat (Indonesia) lebih dikenal dengan istilah "Muntaber".
Penyakit ini mempunyai konotasi yang mengerikan serta menimbulkan kecemasan dan
kepanikan warga masyarakat karena bila tidak segera diobati, dalam waktu
singkat (± 48 jam) penderita akan meninggal. (Triatmodjo.
2008)
Istilah
Diare dibagi menjadi berbagai macam bentuk diantaranya:
·
Diare akut: kurang dari 2 minggu
·
Diare Persisten: lebih dari 2 minggu
·
Disentri: diare disertai darah dengan ataupun
tanpa lender
·
Kholera: diare dimana tinjanya terdapat bakteri
Cholera
1. Penyebab Diare
Diare bukanlah
penyakit yang datang dengan sendirinya. Biasanya ada yang menjadi pemicu terjadinya
diare. Secara umum, berikut ini beberapa penyebab diare, yaitu:
1.1.
Agent
/ Penyebab Penyakit
Berupa unsur hidup: Penyebab
infeksi utama timbulnya diare adalah golongan virus, bakteri dan parasit.
-
Infeksi bakteri: Vibrio, E. Coli, Salmonella, Stigella, Campilobacter, Yersinia,
Aeromonas dan sebagainya.
-
Infeksi Virus: Entrovirus (Virus Echo,
Coxsackie, Poliomielitis)
-
Infeksi parasit: Cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyloides)
1.2 Host / Pejamu
a) Faktor
Umur: Sebagian besar diare terjadi pada anak dibawah usia 2 tahun.
Balita yang berumur 12-24 bulan mempunyai resiko terjadi diare dibanding anak umur 25-59 bulan.
b) Status
Gizi: Diare menyebabkan gizi kurang dan memperberat diarenya. Oleh
karena itu, pengobatan dengan makanan yang baik merupakan komponen utama
penyembuhan diare tersebut. Bayi dan balita yang gizinya kurang sebagian besar
meninggal karena diare. Hal ini disebabkan karena dehidrasi dan malnutrisi.
Faktor gizi dilihat berdasarkan status gizi yaitu baik = 100-90, kurang =
<90-70, buruk = <70 dengan BB per TB.
Menurut
Satiri (1963) dan Gordon (1964) pada penderita malnutrisi serangan terjadi
lebih sering dan lebih lama. Semakin buruk keadaan gizi suatu anak, semakin
sering dan berat diare yang dideritanya.
c) Riwayat
Penyakit Terdahulu: Terkena diare persisten meningkat 3- 4 kali selama
bulan-bulan setelah episode diare akut. Banyak bayi
terkena diare persisten setelah terkena infeksi campak.
d) Status
Imunologik: Anak-anak yang memiliki mekanisme kekebalan tubuh yang
buruk, entah karena malnutrisi, penyakit atau factor-faktor lainnya, mermiliki risiko yang
lebih tinggi untuk terkena diare persisten.
e) Faktor Perilaku: Kontak antara agent dan host dapat terjadi melalui air, terutama air minum yang tidak
dimasak dapat juga terjadi sewaktu mandi dan berkumur. Kontak kuman pada
kotoran dapat langsung ditularkan pada orang lain apabila melekat pada tangan
dan kemudian dimasukkan ke mulut dipakai untuk memegang makanan. Kontaminasi
alat-alat makan dan dapur. Anak-anak
yang minum susu hewan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena diare
persisten. Hal ini dapat disebabkan oleh:
- Susu hewan yang terkontaminasi bakteri penyebab penyakit
- Kerusakan dinding usus oleh protein yanga ada dalam susu hewan
- Intoleransi terhadap laktosa, yakni suatu protein yang ada dalam susu
- Beberapa mekanisme yang belum diketahui
1.3 Environment
/ Lingkungan
Penyakit diare merupakan salah satu
penyakit yang berbasis lingkungan. Dua faktor yang dominan, yaitu: sarana air bersih
dan pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan
perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman
diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula, yaitu
melalui makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan kejadian penyakit diare.
Faktor Lingkungan dapat berupa:
- Pasokan air tidak memada
- Air terkontaminasi tinja
- Fasilitas kebersihan kurang
- Kebersihan pribadi buruk, misalnya tidak mencuci tangan setelah buang air
- Kebersihan rumah buruk. Misalnya tidak membuang tinja anaak di WC
·
Metode penyiapan dan
penyimpanan makanan tidak higienes . Misalnya makanan dimasak tanpa dicuci
terlebih dahulu atau tidak menutup makanan yang telah dimasak.
a) Faktor
Pekerjaan: Ayah dan ibu yang bekerja Pegawai negeri atau Swasta rata-rata
mempunyai pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan ayah dan ibu yang bekerja
sebagai buruh atau petani. Jenis pekerjaan umumnya berkaitan dengan tingkat
pendidikan dan pendapatan. Tetapi ibu yang bekerja harus membiarkan anaknya
diasuh oleh orang lain, sehingga mempunyai resiko lebih besar untuk terpapar
dengan penyakit.
b) Faktor
Sosial-Ekonomi: Sosial ekonomi mempunyai pengaruh langsung terhadap
faktor-faktor penyebab diare. Kebanyakan anak mudah menderita diare berasal
dari keluarga besar dengan daya beli yang rendah, kondisi rumah yang buruk,
tidak mempunyai penyediaan air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan.
2. Gejala Diare
Gejala yang biasanya ditemukan
adalah buang air besar terus menerus disertai dengan rasa mulas yang berkepanjangan,
dehidrasi,
mual dan muntah. Tetapi gejala lainnya yang dapat timbul antara lain pegal pada punggung,dan
perut sering berbunyi.
Salah
satu gejala lainnya dari penyakit diare adalah gastroenteritis.
Gastroenteritis adalah peradangan pada saluran pencernaan yang diakibatkan oleh
infeksi atau keracunan makanan.
3. Pencegahan Diare
-
Meminum oralit
atau dapat membuatnya sendiri dengan melarutkan 1 sendok teh garam dan 8 sendok
teh gula dalam 1 liter air matang.
-
Jaga hidrasi dengan elektrolit
yang seimbang. Ini merupakan cara paling sesuai di kebanyakan kasus diare,
bahkan disentri. Mengkonsumsi sejumlah besar air yang tidak diseimbangi dengan
elektrolit yang dapat dimakan dapat mengakibatkan ketidakseimbangan elektrolit
yang berbahaya dan berakibat fatal.
-
Mencoba makan lebih
sering tapi dengan porsi yang lebih sedikit, frekuensi teratur, dan jangan makan
atau minum terlalu cepat.
-
Menjaga kebersihan dan
isolasi: Kebersihan tubuh merupakan faktor utama dalam membatasi penyebaran
penyakit.
-
Selain itu dengan
membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun. Karena tangan merupakan salah
satu bagian tubuh yang paling sering melakukan kontak langsung dengan benda
lain, maka sebelum makan disarankan untuk mencuci tangan dengan sabun.
Sebuah hasil studi Cochrane menemukan bahwa dalam gerakan-gerakan sosial yang
dilakukan lembaga dan masyarakat untuk membiasakan mencuci tangan menyebabkan
penurunan tingkat kejadian yang signifikan pada diare.
-
Usahakan meminum air yang sudah direbus hingga mendidih agar semua
bakteri penyakit tidak masuk ke dalam tubuh.
-
Segera bersihkan tempat tinggal dari sisa sampah jika terjadi bencana
alam.
-
Segera buang tumpukan sampah agar tidak menggunung dan jadi sarang
penyakit.
Daftar
Pustaka:
Diare
Faktor Penyebab Diare
Faktor Resiko Penyebab Diare
Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan
Penyakit Diare pada Bayi, Anak-Anak, dan
Dewasa
8 Faktor Penyebab Diare pada Anak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar