Minggu, 25 Mei 2014

Diare


   Diare

            Diare (atau dalam bahasa kasar disebut menceret) (diarrheal disease) berasal dari bahasa Yunani diarrola yang berarti mengalir terus, merupakan suatu keadaan abnormal dari pengeluaran tinja yang terlalu frekuen. Hipocrates memberikan definisi diare sebagai suatu keadaan abnormal dari frekuensi dan kepadatan tinja. Sedangkan dalam bahasa Inggris diarrhea adalah sebuah penyakit di mana tinja atau feses berubah menjadi lembek atau cair yang biasanya terjadi paling sedikit tiga kali dalam 24 jam.
            Diare jarang membahayakan, namun dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan nyeri kejang pada bagian perut. Meskipun tidak membutuhkan perawatan khusus, penyakit diare perlu mendapatkan perhatian serius, karena dapat menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). Dehidrasi dapat ditengarai dengan gejala fisik seperti bibir terasa kering, kulit menjadi keriput, mata dan ubun-ubun menjadi cekung, serta menyebabkan syok. Untuk mencegah dehidrasi dengan meminum larutan oralit. Karena itu, penderita diare harus banyak minum air dan diberi obat anti diare.
            Di negara berkembang, diare adalah penyebab kematian paling umum kematian balita, dan juga membunuh lebih dari 2,6 juta orang setiap tahunnya. Dampak negatif penyakit diare pada bayi dan anak-anak antara lain adalah menghambat proses tumbuh kembang anak yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup anak. Penyakit diare di masyarakat (Indonesia) lebih dikenal dengan istilah "Muntaber". Penyakit ini mempunyai konotasi yang mengerikan serta menimbulkan kecemasan dan kepanikan warga masyarakat karena bila tidak segera diobati, dalam waktu singkat (± 48 jam) penderita akan meninggal.  (Triatmodjo. 2008)
Istilah Diare dibagi menjadi berbagai macam bentuk diantaranya:
·         Diare akut: kurang dari 2 minggu
·         Diare Persisten: lebih dari 2 minggu
·         Disentri: diare disertai darah dengan ataupun tanpa lender
·         Kholera: diare dimana tinjanya terdapat bakteri Cholera

1. Penyebab Diare
Diare bukanlah penyakit yang datang dengan sendirinya. Biasanya ada yang menjadi pemicu terjadinya diare. Secara umum, berikut ini beberapa penyebab diare, yaitu:

1.1.   Agent / Penyebab Penyakit
Berupa unsur hidup: Penyebab infeksi utama timbulnya diare adalah golongan virus, bakteri dan parasit.
-          Infeksi bakteri: Vibrio, E. Coli, Salmonella, Stigella, Campilobacter, Yersinia, Aeromonas dan sebagainya.
-          Infeksi Virus: Entrovirus (Virus Echo, Coxsackie, Poliomielitis)
-          Infeksi parasit: Cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyloides)

1.2 Host / Pejamu
a)   Faktor Umur: Sebagian besar diare terjadi pada anak dibawah usia 2 tahun. Balita yang berumur 12-24 bulan mempunyai resiko terjadi diare dibanding anak umur 25-59 bulan.
b)  Status Gizi: Diare menyebabkan gizi kurang dan memperberat diarenya. Oleh karena itu, pengobatan dengan makanan yang baik merupakan komponen utama penyembuhan diare tersebut. Bayi dan balita yang gizinya kurang sebagian besar meninggal karena diare. Hal ini disebabkan karena dehidrasi dan malnutrisi. Faktor gizi dilihat berdasarkan status gizi yaitu baik = 100-90, kurang = <90-70, buruk = <70 dengan BB per TB.
     Menurut Satiri (1963) dan Gordon (1964) pada penderita malnutrisi serangan terjadi lebih sering dan lebih lama. Semakin buruk keadaan gizi suatu anak, semakin sering dan berat diare yang dideritanya.
c)  Riwayat Penyakit Terdahulu: Terkena diare persisten meningkat 3- 4 kali selama bulan-bulan setelah episode diare akut. Banyak bayi terkena diare persisten setelah terkena infeksi campak.
d)  Status Imunologik: Anak-anak yang memiliki mekanisme kekebalan tubuh yang buruk, entah karena malnutrisi, penyakit atau factor-faktor lainnya, mermiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena diare persisten.
e)   Faktor Perilaku: Kontak antara agent dan host dapat terjadi melalui air, terutama air minum yang tidak dimasak dapat juga terjadi sewaktu mandi dan berkumur. Kontak kuman pada kotoran dapat langsung ditularkan pada orang lain apabila melekat pada tangan dan kemudian dimasukkan ke mulut dipakai untuk memegang makanan. Kontaminasi alat-alat makan dan dapur. Anak-anak yang minum susu hewan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena diare persisten. Hal ini dapat disebabkan oleh:
  1. Susu hewan yang terkontaminasi bakteri penyebab penyakit
  2. Kerusakan dinding usus oleh protein yanga ada dalam susu hewan
  3. Intoleransi terhadap laktosa, yakni suatu protein yang ada dalam susu
  4. Beberapa mekanisme yang belum diketahui

1.3 Environment / Lingkungan
            Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. Dua faktor yang dominan, yaitu: sarana air bersih dan pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula, yaitu melalui makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan kejadian penyakit diare. Faktor Lingkungan dapat berupa:
  • Pasokan air tidak memada
  • Air terkontaminasi tinja
  •  Fasilitas kebersihan kurang
  • Kebersihan pribadi buruk, misalnya tidak mencuci tangan setelah buang air
  • Kebersihan rumah buruk. Misalnya tidak membuang tinja anaak di WC
·         Metode penyiapan dan penyimpanan makanan tidak higienes . Misalnya makanan dimasak tanpa dicuci terlebih dahulu atau tidak menutup makanan yang telah dimasak.
a)      Faktor Pekerjaan: Ayah dan ibu yang bekerja Pegawai negeri atau Swasta rata-rata mempunyai pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan ayah dan ibu yang bekerja sebagai buruh atau petani. Jenis pekerjaan umumnya berkaitan dengan tingkat pendidikan dan pendapatan. Tetapi ibu yang bekerja harus membiarkan anaknya diasuh oleh orang lain, sehingga mempunyai resiko lebih besar untuk terpapar dengan penyakit.
b)      Faktor Sosial-Ekonomi: Sosial ekonomi mempunyai pengaruh langsung terhadap faktor-faktor penyebab diare. Kebanyakan anak mudah menderita diare berasal dari keluarga besar dengan daya beli yang rendah, kondisi rumah yang buruk, tidak mempunyai penyediaan air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan.



2. Gejala Diare
            Gejala yang biasanya ditemukan adalah buang air besar terus menerus disertai dengan rasa mulas yang berkepanjangan, dehidrasi, mual dan muntah. Tetapi gejala lainnya yang dapat timbul antara lain pegal pada punggung,dan perut sering berbunyi.
            Salah satu gejala lainnya dari penyakit diare adalah gastroenteritis. Gastroenteritis adalah peradangan pada saluran pencernaan yang diakibatkan oleh infeksi atau keracunan makanan.

3. Pencegahan Diare
-          Meminum oralit atau dapat membuatnya sendiri dengan melarutkan 1 sendok teh garam dan 8 sendok teh gula dalam 1 liter air matang.
-          Jaga hidrasi dengan elektrolit yang seimbang. Ini merupakan cara paling sesuai di kebanyakan kasus diare, bahkan disentri. Mengkonsumsi sejumlah besar air yang tidak diseimbangi dengan elektrolit yang dapat dimakan dapat mengakibatkan ketidakseimbangan elektrolit yang berbahaya dan berakibat fatal.
-          Mencoba makan lebih sering tapi dengan porsi yang lebih sedikit, frekuensi teratur, dan jangan makan atau minum terlalu cepat.
-          Menjaga kebersihan dan isolasi: Kebersihan tubuh merupakan faktor utama dalam membatasi penyebaran penyakit.
-          Selain itu dengan membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun. Karena tangan merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sering melakukan kontak langsung dengan benda lain, maka sebelum makan disarankan untuk mencuci tangan dengan sabun. Sebuah hasil studi Cochrane menemukan bahwa dalam gerakan-gerakan sosial yang dilakukan lembaga dan masyarakat untuk membiasakan mencuci tangan menyebabkan penurunan tingkat kejadian yang signifikan pada diare.
-          Usahakan meminum air yang sudah direbus hingga mendidih agar semua bakteri penyakit tidak masuk ke dalam tubuh.
-          Segera bersihkan tempat tinggal dari sisa sampah jika terjadi bencana alam.
-          Segera buang tumpukan sampah agar tidak menggunung dan jadi sarang penyakit.

Daftar Pustaka:
Diare

Faktor Penyebab Diare

Faktor Resiko Penyebab Diare

Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan Penyakit Diare pada Bayi, Anak-Anak,    dan Dewasa

8 Faktor Penyebab Diare pada Anak



Tidak ada komentar:

Posting Komentar